Dan ternyata nazarku terkabul,aku shock namun bagaimana ini sudah terjadi,hari itu entah mengapa kita sering bertemu.Aku makin panik,bukan hanya karena bagaimana cara mengetahui namanya tapi bagaimana jika memang kita jodoh,dan jarak Bandung-Indramayu itu tidak dekat. “Ahh Tuhan,aku harus bagaimana?tetapi hatiku memang benar,hatiku bergetar saat melihat dia.
Tapi apakah mungkin dia akan merasakan yang sama?aku takut tak terjadi itu padanya Tuhan” begitu hatiku berkata,setiap saat aku berharap Tuhan akan menimbulkan rasa yang sama pada dirinya. Perasaan gundah itu bertambah ketika beberapa hari kedepan aku harus meninggalkan Indramayu. Hampa jika aku memikirkan,setahun tanpa dirinya.
Hari terus berganti hingga suatu pagi aku sedang membaca buku di teras rumah Nenek,saat aku menunduk untuk mematikan semut,rambutku menutupi seluruh wajahku,dan ketika aku membenarkan rambutku,kulihat ia sedang menatapku.Pagi itu nan indah bagiku,senyuman tak pernah lepas dari raut wajahku.Ya Allah tatapan itu sangat berarti bagiku,harapan yang banyak saat melihat tatapannya itu banyak terlontar dari hatiku. Namun esoknya aku tetap gundah karena hari itu adalah hari terakhir aku bisa melihat dia,menanti tatapan matanya dan berharap hari itu aku mendapat banyak kenangan dari dirinya serta mengetahui namanya.
Namun semua usahaku sia-sia,malam berlanjut tepatnya malam itu malam minggu,biasanya ia selalu main dengan teman-temannya,aku mencoba mencari dia di area pasar malam saat itu. Nihil hasilnya,aku pulang dengan wajah kusut “Hari esok,lusa,ataupun seterusnya aku ga bakalan bisa lihat dia Allah,semangat yang udah bangkit bakalan hilang begitu aja,aku ga bisa apa-apa Ya Allah,Engkau yang telah memberikan perasaan ini untuknya,tapi kenapa juga Engkau yang menjauhkan aku dari perasaan dia.” Begitulah sebuah curahan hatiku untuk Allah,entah kenapa hari itu kita hanya 2 kali berjumpa.
Esok yang menurutku hari yang tidak pernah dinanti datang juga,pagi itu aku masih menantinya tepatnya pukul 06.30 namun kiranya tak ada tanda-tanda dia akan keluar dari rumah.Hampa terasa pagi itu dan rasanya lebih hampa dari hari kemarin “Allah,aku tak bisa berbuat apa-apa atas takdir-Mu yang satu ini,aku harap sebuah keajaiban datang dari pihak-Mu detik ini.” Tetap saja tak ada hasil yang kuterima. Dalam perjalanan ke Bandung aku dirubungi oleh rasa kecewa,sepanjang perjalanan aku berkhayal,andaikan aku bisa pindah kesana,untuk tetap ada disamping dia merasakan indahnya bersama dia. Tapi apa daya,takdir ini tak bisa sedikitpun kupungkiri,mengelak untuk menjauh dari rasa mencintanya begitu sulit apalagi merasakan cintanya dari dekat.
Tapi apakah mungkin dia akan merasakan yang sama?aku takut tak terjadi itu padanya Tuhan” begitu hatiku berkata,setiap saat aku berharap Tuhan akan menimbulkan rasa yang sama pada dirinya. Perasaan gundah itu bertambah ketika beberapa hari kedepan aku harus meninggalkan Indramayu. Hampa jika aku memikirkan,setahun tanpa dirinya.
Hari terus berganti hingga suatu pagi aku sedang membaca buku di teras rumah Nenek,saat aku menunduk untuk mematikan semut,rambutku menutupi seluruh wajahku,dan ketika aku membenarkan rambutku,kulihat ia sedang menatapku.Pagi itu nan indah bagiku,senyuman tak pernah lepas dari raut wajahku.Ya Allah tatapan itu sangat berarti bagiku,harapan yang banyak saat melihat tatapannya itu banyak terlontar dari hatiku. Namun esoknya aku tetap gundah karena hari itu adalah hari terakhir aku bisa melihat dia,menanti tatapan matanya dan berharap hari itu aku mendapat banyak kenangan dari dirinya serta mengetahui namanya.
Namun semua usahaku sia-sia,malam berlanjut tepatnya malam itu malam minggu,biasanya ia selalu main dengan teman-temannya,aku mencoba mencari dia di area pasar malam saat itu. Nihil hasilnya,aku pulang dengan wajah kusut “Hari esok,lusa,ataupun seterusnya aku ga bakalan bisa lihat dia Allah,semangat yang udah bangkit bakalan hilang begitu aja,aku ga bisa apa-apa Ya Allah,Engkau yang telah memberikan perasaan ini untuknya,tapi kenapa juga Engkau yang menjauhkan aku dari perasaan dia.” Begitulah sebuah curahan hatiku untuk Allah,entah kenapa hari itu kita hanya 2 kali berjumpa.
Esok yang menurutku hari yang tidak pernah dinanti datang juga,pagi itu aku masih menantinya tepatnya pukul 06.30 namun kiranya tak ada tanda-tanda dia akan keluar dari rumah.Hampa terasa pagi itu dan rasanya lebih hampa dari hari kemarin “Allah,aku tak bisa berbuat apa-apa atas takdir-Mu yang satu ini,aku harap sebuah keajaiban datang dari pihak-Mu detik ini.” Tetap saja tak ada hasil yang kuterima. Dalam perjalanan ke Bandung aku dirubungi oleh rasa kecewa,sepanjang perjalanan aku berkhayal,andaikan aku bisa pindah kesana,untuk tetap ada disamping dia merasakan indahnya bersama dia. Tapi apa daya,takdir ini tak bisa sedikitpun kupungkiri,mengelak untuk menjauh dari rasa mencintanya begitu sulit apalagi merasakan cintanya dari dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar