Selasa, 06 September 2011

Arti Tatapan Itu(2)

      Dan ternyata nazarku terkabul,aku shock namun bagaimana ini sudah terjadi,hari itu entah mengapa kita sering bertemu.Aku makin panik,bukan hanya karena bagaimana cara mengetahui namanya tapi bagaimana jika memang kita jodoh,dan jarak Bandung-Indramayu itu tidak dekat. “Ahh Tuhan,aku harus bagaimana?tetapi hatiku memang benar,hatiku bergetar saat melihat dia.

      Tapi apakah mungkin dia akan merasakan yang sama?aku takut tak terjadi itu padanya Tuhan” begitu hatiku berkata,setiap saat aku berharap Tuhan akan menimbulkan rasa yang sama pada dirinya. Perasaan gundah itu bertambah ketika beberapa hari kedepan aku harus meninggalkan Indramayu. Hampa jika aku memikirkan,setahun tanpa dirinya.

      Hari terus berganti hingga suatu pagi aku sedang membaca buku di teras rumah Nenek,saat aku menunduk untuk mematikan semut,rambutku menutupi seluruh wajahku,dan ketika aku membenarkan rambutku,kulihat ia sedang menatapku.Pagi itu nan indah bagiku,senyuman tak pernah lepas dari raut wajahku.Ya Allah tatapan itu sangat berarti bagiku,harapan yang banyak saat melihat tatapannya itu banyak terlontar dari hatiku. Namun esoknya aku tetap gundah karena hari itu adalah hari terakhir aku bisa melihat dia,menanti tatapan matanya dan berharap hari itu aku mendapat banyak kenangan dari dirinya serta mengetahui namanya.

      Namun semua usahaku sia-sia,malam berlanjut tepatnya malam itu malam minggu,biasanya ia selalu main dengan teman-temannya,aku mencoba mencari dia di area pasar malam saat itu. Nihil hasilnya,aku pulang dengan wajah kusut “Hari esok,lusa,ataupun seterusnya aku ga bakalan bisa lihat dia Allah,semangat yang udah bangkit bakalan hilang begitu aja,aku ga bisa apa-apa Ya Allah,Engkau yang telah memberikan perasaan ini untuknya,tapi kenapa juga Engkau yang menjauhkan aku dari perasaan dia.” Begitulah sebuah curahan hatiku untuk Allah,entah kenapa hari itu kita hanya 2 kali berjumpa.

     Esok yang menurutku hari yang tidak pernah dinanti datang juga,pagi itu aku masih menantinya tepatnya pukul 06.30 namun kiranya tak ada tanda-tanda dia akan keluar dari rumah.Hampa terasa pagi itu dan rasanya lebih hampa dari hari kemarin “Allah,aku tak bisa berbuat apa-apa atas takdir-Mu yang satu ini,aku harap sebuah keajaiban datang dari pihak-Mu detik ini.” Tetap saja tak ada hasil yang kuterima. Dalam perjalanan ke Bandung aku dirubungi oleh rasa kecewa,sepanjang perjalanan aku berkhayal,andaikan aku bisa pindah kesana,untuk tetap ada disamping dia merasakan indahnya bersama dia. Tapi apa daya,takdir ini tak bisa sedikitpun kupungkiri,mengelak untuk menjauh dari rasa mencintanya begitu sulit apalagi merasakan cintanya dari dekat.

Arti Tatapan Itu(1)

              Malam itu semua orang sedang berbahagia,selain mereka bisa mengakhiri puasa secara 1 bulan penuh mereka juga akan merayakan suatu hal yang banyak dinanti-nanti.Walau ada kesalahpahaman dengan jadwal yang sudah ditentukan namun Hari Raya Idul Fitri tetap dijalankan oleh setiap umat Muslim di dunia walau dalam jadwal yang berbeda.

     2 Hari yang lalu aku sudah sampai di  tempat tinggal Nenekku yaitu tepatnya di Tunggul Payung,Indramayu.Suasana malam itu menurutku sungguh indah,berkumpul dengan keluarga,merasakan indahnya langit yang dipenuhi bintang dan letusan kembang api,sebagai penambah kesempurnaan malam itu.Malam telah berganti pagi,suara Takbir masih berkumandang di seluruh pelosok indramayu,aku bersiap untuk merayakan Hari Kemenangan itu.

       Sholat yang dimulai pukul 07.30 itu dilakukan dengan khusyuk.Sesampai dirumah Nenek,kami pun bersalam-selaman seperti adat biasanya.Sanak keluarga dan juga tetangga datang kerumah Nenekku,mungkin karena Nenekku sudah terlalu sepuh jadi mereka yang datang. Kami menyambut mereka dengan senyuman,suasana pagi itu tidak sepanas hari kemarin,begitupun saat seorang tetanggaku tepatnya tetangga sebelah kiri rumah Nenek datang,anak laki-laki yang entah tak aku ketahui namanya membuat suasana menjadi begitu sejuk.Tatapannya pagi itu membuat aku jatuh dalam perasaannya.Namun aku tak menggubris arti tatapannya,mungkin tatapan mengartikan bahwa dia lupa menyalamiku,memang pagi itu aku hanya menyalami kakaknya dan orang tuanya.Hari terus berlanjut hingga siang,hingga sore,dan hingga malam.

    Malam itu Tanteku mengajak untuk mencari makan malam,bukan karena dirumah tak ada makanan,namun ini dalam rangka menghabiskan uang THR saja. Setelah beberapa saat mencari tukang bakso disekeliling desa,akhirnya kami menemukan sebuah tukang bakso yang jaraknya cukup jauh dari rumah nenek,dalam keadaan penuh sesak aku melihat sosok lelaki yang menurut hatiku begitu menarik. Saat itu pula aku berharap dia bisa menatap mataku,dan sesaat DIA MENATAP MATAKU.

       Malam itu kami saling curi pandang,karena penuhnya tukang bakso malam itu,membuat kami harus mengantre lama dan waktu kita untuk saling curi-curi pandang pun lama. Beberapa saat,lelaki itu yang datang lebih awal dariku harus pulang lebih awal pula dariku,dan saat ia pergi meninggalkan tempat itu ia pun memberikan tatapan yang terakhir.Tatapan malam itu membuatku senang,namun tatapan itu tak seberarti tatapan tetangga nenekku itu.
       Esoknya saat bangun tidur aku benazar “Ya Allah,jika aku melihat dia(tetangga nenek) hari ini maka apapun caranya,bagaimana pun rintangannya dia akan tetap menjadi jodoh aku ”
Dari pagi hingga pukul 11.00 aku tak melihat dia,dan aku merasakan bahwa nazarku takkan berhasil,sesaat ketika aku akan kembali kedalam rumah dari arah garasi depan,AKU MELIHAT DIA.